Noni Kurangi Kolesterol & Trigliserida pada Perokok

Tak sedikit orang yang telah merasakan khasiat buah bernama Latin Morinda citrifolia ini. Dr. Mian Ying Wang, MD, MS, seorang peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Illinois, Chicago, Amerika Serikat, dalam riset terbarunya mengemukakan bahwa produk Tahitian Noni Juice dapat mengurangi kolesterol dan trigliserida pada perokok dengan tingkat kolesterol tinggi.

Dr Wang memilih perokok sebagai subjek penelitian karena tingkat kolesterolnya tinggi dan berisiko terhadap serangan jantung. Dalam penelitian lain noni disebut memiliki efek antikanker pada tahap awal proses karsinogenik, aktivitas antimutagenik, antikanker in vitro dan in vivo, berefek pada perlindungan organ hati, mengurangi rasa sakit, sebagai antioksidan yang sangat kuat untuk menangkal radikal bebas mengurangi peroksida lemak pada vitro dan vivo serta sebagai antiinflamatori.

Prof. Dr. Sumali Wiryowidagdo, Ketua Pusat Studi Obat Bahan Alam (PS OBA) dari Departemen Farmasi Fakultas MIPA Universitas Indonesia juga sudah mulai meneliti khasiat buah noni pada tahun 2004-2005. Menurut Prof. Sumali, noni dapat meningkatkan resistensi tubuh terhadap penyakit. “Karena merupakan adaptogen yakni bahan yang meningkatkan resistensi tubuh terhadap stres fisik, kimia, dan biologi. Selain itu, noni juga merupakan imunostimulan yakni bahan yang mengaktifkan mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi terutama virus dan bakteri patogen,” ujar Prof Sumali.

Penelitian Prof Sumali didukung oleh uji khasiat yang dilakukan Wahyo Jatmiko dari Universitas Airlangga pada tahun 2004-2005. Seperti dilaporkan Wahyo buah noni aman sebagai obat dan dapat menurunkan gula darah pada penderita diabetes tipe II.

Dr. Wang menambahkan noni selain memiliki efek terapis juga berkhasiat antibakteri, antiviral, antifungal, sebagai peningkat imun dan memberi efek perlindungan terhadap penyakit SARS.

Sumber : Kompas
Baca Selengkapnya...

Depresi

Secara sederhana, depresi adalah ketidaknormalan suasana hati (mood), kita akan memulai diskusi ini depresidengan apa yang mungkin dialami oleh seseorang bernama David. Dia mungkin mengalami ketidaknormalan penyesuaian dengan depresi, yang dapat mencakup diantara gejala-gejala yang lain, suasana yang dapat mencakup diantara gejala-gejala yang lain, suasana hati yang tertekan. Dalam menghadapi berbagai tekanan - selain duka cita - seorang dapat, seperti yang David rasakan, merasa sangat sedih, putus asa akan keadaannya dan mudah menangis.

Biasanya dalam waktu 6 bulan bila tekanan tersebut sudah teratasi maka seseorang akan kembali dirinya sendiri. Bila tekanannya cukup kronis, depresi dapat terus berlanjut hingga tekanan terselesaikan. Contoh keadaan seperti ini dapat berupa penyakit yang membutuhkan pemulihan cukup lama atau perpecahan dalam keluarga. Atau reaksi atas dalam hidup seperti pergi jauh dari rumah, pindah ke kota baru, mendapatkan pekerjaan baru atau kehilangan pekerjaan. Situasi-situasi tersebut dapat membutuhkan waktu yang lama untuk pulih dan mungkin menyakitkan hati di saat pemulihan.

Apapun pemicunya, depresi mungkin adalah salah satu penyakit yang termahal di Amerika Serikat. Berdasarkan National Depressive and Manic Depressive Association, Amerika Serikat kehilangan sekitar 43 milyar dolar per tahun akibat ketidakmampuan untuk bekerja dan turunnya produktivitas. Sebagai tambahan, terdapat biaya-biaya medis untuk mengatasi gejala-gejala depresi yang melemahkan tersebut, belum lagi penderitaan mental bagi penderita, sanak keluarga dan sahabat-sahabatnya. Depresi mempengaruhi suasana hati, pikiran, tingkah laku dan kebugaran fisik seseorang. Seperti disebutkan sebelumnya, depresi terkadang disertai atau ditimbulkan oleh penyakit kronis lainnya. Statistik memperlihatkan 80 hingga 90% kasus depresi dapat ditangani secara efektif bila seseorang mendapatkan pertolongan mental yang dibutuhkannya. Semakin dini seseorang mendapatkan perawatan akan semakin baik hasilnya. Tidak ada kata terlambat.

Kebanyakan depresi adalah ketidaknormalan kimiawi dalam otak. Namun demikian, hal ini lebih rumit daripada kedengarannya. Kita telah mendiskusikan ketidaknormalan penyesuaian dengan depresi, dimana merupakan kasus yang dialami David. Sekarang untuk lebih mengerti jenis lain dari depresi, mari kita teliti tiga kategori umum dari depresi: Penyakit depresi berat, dysthymia dan kelainan bipolar.

Depresi berat menyerang begitu saja untuk masa yang tidak dapat ditentukan, dimana pada saat itu untuk makan, tidur ataupun bangun tidur terasa begitu berat. Sepanjang waktu si penderita tidak dapat berpikir dengan benar atau berkonsentrasi.

Dysthymia, di satu sisi, bisa lebih ringan dan suasana hati yang mendung dialami hampir setiap hari, bisa berkelanjutan hingga beberapa tahun. Hari-hari kelabu lebih banyak daripada hari-hari gembira. Penderita mampu berfungsi hingga titik tertentu, namun tidak pernah dalam kapasitas sesungguhnya.

Sementara penderita kelainan bipolar mengalami perpindahan suasana di antara depresi berat dan “tinggi” yang dikenal sebagai mania atau lebih rendah yang dikenal sebagai hypomania. Gejala-gejala yang tinggi termasuk merasa terganggu, suasana hati yang meningkat disertai dengan turunnya kebutuhan untuk tidur, menyerocs dan tingkah laku kasar yang dipicu oleh pertimbangan yang buruk sehingga mengakibatkan konsekuensi yang menyakitkan bagi mereka sendiri atau orang-orang yang dikasihinya.

Unsur-unsur kimia dalam otak kemungkinan besar adalah penyebab depresi, mania dan hypomania. Serotonin merupakan salah satu unsur kimia yang dikenal. Penelitian atas Morinda citrifolia menyingkapkan peran pentingnya dalam produksi dan penggunaan yang tepat dari serotonin. Kemampuan noni dalam mengatur unsur biokimia alami lainnya, seperti hormon, yang mungkin menjadi penyebab mengapa banyak orang mengalami penurunan depresi berat, dysthymia dan kelainan bipolar terkadang membutuhkan bantuan psikiater dan obat-obatan untuk menormalkan unsur-unsur kimia dalam otak.

Berdasarkan penelitian saya, dari 1.625 pengguna noni yang menderita depresi, 78% di antaranya melaporkan adanya kemajuan.

Takaran Penggunaan Noni : Jumlah konsumsi rata-rata dari 78% responden yang mengalami kemajuan kesehatan yang positi adalah 90 cc setiap hari.

(Sumber Berita: Buku Noni Juice (How Much, How Often, for What) Edisi 4 Neil Solomon, MD, PhD)
Baca Selengkapnya...

Kanker & Tahitian Noni Juice

Kanker adalah proses selular yang tidak berfungsi. Ketika menderita kanker, tubuh kehilangan kontrol selular, yang mengakibatkan pertumbuhan sel yang tidak baik menjadi tidak terkontrol. Sel-sel kanker ini akan menyerang jaringan lokal, berpindah ketempat lain dan berkembang biak. Penyakit ini sendiri bermula dari sel yang bermutasi dan berubah. Sel abnormal ini mempertahankan mutasinya melalui proses reproduksi sel meskipun terdapat usaha dari sistem pertahanan tubuh yang berusaha mengeleminasi sel-sel abnormal. Sel-sel yang bermutasi ini (berasal dari DNA yang abnormal) kemudian bergerak ke sekujur tubuh dan berdiam di satu atau lebih organ tubuh. Saat ini ada lebih dari seratus jenis kanker yang tumbuh dalam tubuh manusia. begitu banyak jenis kanker, dengan ke abnormalan DNA-nya masing-masing dan berbagai perbedaan pada gejala-gejala dan tanda-tanda, adalah tidak mungkin didalam ulasan singkat ini untuk membahas semuanya. berdasarkan pengalaman saya di Rumah Sakit Johns Hopkins, satu gejala yang sering muncul adalah kehilangan energi.

Saya juga melihat beberapa keabnormalan yang timbul pada beberapa jenis kanker seperti kulit yang berubah warna, luka yang tidak kunjung sembuh, benjolan dibawah kulit, suhu tubuh meningkat dan kehilangan berat badan. hal-hal tersebut sering di asosiasikan dengan tanda-tanda dan gejala -gejala untuk penyakit lain. Kebanyakan kanker tidak terdeteksi secara awal dan hanya bisa didiagnosis secara cepat dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin dan dengan serangkaian tes yang spesifik. Semakin dini kanker di deteksi dan di rawat semakin baik hasilnya. Saya percaya Tahitian Noni Juice bermanfaat untuk kanker karena baik noni maupun Tahitian Noni Juice bekerja ditingkat selular. Lebih jauh lagi dipercaya bahwa Tahitian Noni Juice meningkatkan struktur selular tetapi kanker menghancurkannya.
Beberapa penelitian lain telah dilakukan di laboratorium-laboratorium untuk menegaskan kemampuan Tahitian Noni Juice untuk melawan kanker. dalam suatu penelitian, empat orang ilmuwan dari Jepang menyuntukan sel ras (sel yang menjadi pemicu bagi pertumbuhan yang merusak) dengan substansi yang disebut damnacanthal yang ditemukan dalam Tahitian Noni Juice. Mereka mengobservasi bahwa pemberian damnachantal ternyata menghambat reproduksi sel ras secara signifikan. Damnachantal adalah suatu substansi didalam Tahitian Noni Juice yang di percaya sebagai agen anti kanker. Sebagai tambahan, riset telah membuktikan bahwa Tahitian Noni Juice merangsang tubuh untuk mereproduksi element-element yang melawan kanker seperti nitrix oxide, interleukin (mediator sistem imunitas yang dibuat oleh dan mempengaruhi limfosit-red), interferon (sitokin yang mencegah terjadinya super infeksi oleh virus lain - red), faktor nekrosis tumor, lipopolisakarida dan sel-sel pembunuh alami. Dipercaya juga bahwa Tahitian Noni Juice mempunyai fungsi pencegahan dan perlindungan terhadap kanker pada tahap inisisasi, yang merupakan fase pertama pada pembentukan kanker. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Mian-Ying Wang, M.D. di Fakultas Kedokteran Universitas Illionis, Rockford, menunjukan bahwa tikus yang diberikan 10% Tahitian Noni Juice selama seminggu dan kemudian disuntukan sel DMBA (agen penyebab kanker) , mempunyai bercak tambahan DNA (suatu tes untuk melihat keabnormalan DNA) yang secara signifikan lebih sedikit di bandingkan dengan tikus yang juga disuntukan DMBA namun hanya diberi air. Semakin sedikit jumlah bercak tambahan DNA, semakin tinngi perlindungan terhadap kanker. Tikus yang diberi Tahitian Noni Juice mempunyai 50% bercak DNA lebih sedikit di paru-paru, 60% lebih sedikit di jantung, 70% lebih sedikit di lever, dan 90% lebih sedikit di ginjal. Tahitian Noni Juice telah terbukti memiliki kemampuan anti oksidan. Hal ini berarti dapat mengikat radikal bebas yang terdapat dalam tubuh. Radikal bebas dapat merusak sel dan membentuk sel kanker. Banyak yang berpendapat bahwa aktifitas anti oksidan adalah fungsi penting dari Tahitian Noni Juice dan salah satu alasan mengapa begitu banyak orang sukses dalam melawan kanker dengan Tahitian Noni Juice. Dari 27.000 pengguna Tahitian Noni Juice dalam survey saya 2.365 orang menderita berbagai jenis kanker. Dari jumlah ini 60% dari mereka berhasil mengalami kemajuan kesehatan yang luar biasa.

Dosis penggunaan Tahitian Noni Juice:jumlah konsumsi rata-rata dari 64% responden yang mengalami kemajuan kesehatan adalah 105 cc setiap hari.

dalam riset saya juga menemukan “resep noni” yang telah digunakan oleh para pasien penderita kanker untuk meningkatkan energi tubuh mereka secara maksimal. Resep ini datang dari rekan sejawat dari profesional media, Orlando Pile, M.D. Resepnya sebagai berikut:

1 botol Tahitian Noni Juice perhari selama 4 hari pertama ½ botol Tahitian Noni Juice perhari selama 4 hari berikutnya 240 cc Tahitian Noni Juice sehari selama 30 hari berikutnya 105 cc untuk selanjutnya.

Tahitian Noni Juice menjadi “ The Top Ten Cancer Treatment” yang direkomendasikan Asosiasi Kanker Amerika Serikat.

PATENT UNTUK KANKER

Morinda Citrifolia and Methylsulfonymethane
Formula dan metoda dalam perawatan kanker payudara.
Australia Patent, Mei 2007 dengan nomor 2004272108

Preventative and Treatment Effects of Morinda Citrifolia as Colon Cancer Cell Growth Inhibitor
US Patent, No. 7.070.813 July 2006

(sumber: How Much, How Often, For What Edisi Keempat by dr. Neil Solomon, MD, PhD)
Baca Selengkapnya...

Diabetes Tipe I & II

Banyak orang terkesima saat mengetahui bahwa diabetes merupakan pembunuh terbesar ketiga di negara ini (Amerika Serikat -Red) setelah penyakit Jantung dan kanker. Untungnya, banyak efek-efek dari diabetes yang dapat dikendalikan. Meskipun penyakit itu tidak tersembuhkan, namun penelitian-penelitian memperlihatkan bahwa dengan mempertahankan kadar gula seseorang sedemikian rupa mendekati batas normal maka komplikasi-komplikasi jangka panjang akibat diabetes seperti serangan jantung, gagal ginjal dan kebutaan akan dapat dikurangi secara signifikan.

Tubuh penderita diabetes sendiri tidak mampu untuk mengolah makanan menjadi energi. Inti permasalahannya adalah kernampuan tubuh dalam memproduksi dan menggunakan hormon insulin secara baik. Sel beta dalam pankreas yang memproduksi insulin. Terdapat dua jenis diabetes: Tipe I dan Tipe II. Pada diabetes Tipe I, tubuh hanya sedikit atau bahkan tidak mampu memproduksi insulin. Kondisi ini sering disebut sebagai diabetes kaum muda karena biasanya muncul pada usia muda dan lebih akut. Pada diabetes tipe II, tubuh mampu memproduksi insulin secukupnya (terkadang bahkan lebih dari cukup). Namun, insulin yang diproduksi tidak dapat diserap oleh sel tubuh untuk memecah gula menjadi energi. Pada diabetes tipe II, tubuh juga mengalami masalah dalam menggunakan lemak dan protein secara baik. Dari sernua jenis diabetes hampir 90% adalah diabetes tipe II. Kondisi ini sering disebut sebagai diabetes ‘usia-lanjut’.

Gejala-gejala dari kedua tipe diabetes tersebut serupa. Yang paling umum antara lain: kekurangan energi, mudah lapar, sering buang air kecil, rasa haus yang berlebihan, pandangan yang kabur, mual, rasa sakit di bagian perut, ketidaknyamanan dan merasa lemah. Tipe I sering dikaitkan dengan turunnya berat badan. Sedangkan tipe II sering dikaitkan dengan penambahan berat badan.

Meskipun kita tahu bahwa diabetes dalam berbagai situasi adalah penyakit keturunan namun para ilmuwan tidak mengetahui dengan pasti penyebabnya, kemungkinannya karena sistem endokrin dan kekebalan tubuh yang tidak berfungsi dengan baik.

Riset memperlihatkan bila sistem kekebalan tubuh mulai berbalik menyerang diri sendiri - kemungkinan karena gangguan otoimunitas - maka sel beta dalam pankreas akan rusak atau setidaknya jumlah sel beta yang berfungsi dengan baik akan berkurang. Hal ini tentu akan mempengaruhi jumlah, kemurnian dan efektifitas dari insulin dalam tubuh. Namun bila sistem kekebalan tubuh sanggup menghalau serangan tersebut maka integritas dari insulin tubuh akan dapat dipertahankan.

Serangkaian tes yang ada saat ini telah memungkinkan untuk mendeteksi kegagalan anti bodi -anti bodi dalam darah sejak dini pada orang-orang yang menunjukkan gejala terserang diabetes. Pada beberapa orang dewasa, antibodiantibodi yang merusak ini dapat muncul bertahun-tahun sebelum gejala-gejala diabetes timbul. Jenjang waktu ini disebut sebagai “tahap pre-diabetes.” Tahapan ini juga ditemui pada penyakit-penyakit gangguan endokrin lainnya seperti Hashimoto’s Thyroiditis dan penyakit Addison (kekurangan adrenalin). Gabungan dari keduanya dikenal sebagai Sindrom Schmidt.

Pada tahun 1960-an, saya berada di Fakultas Kedokteran di John Hopkins Medical School dan menjadi anggota dari tim medis yang melakukan penelitian atas Sindrom Schmidt. Tim ini terdiri dari ahli-ahli medis ternama dari Rumah Sakit John Hopkins seperti mendiang Dr. A.M. Harvey, Ketua dan Profesor di Departemen Pengobatan; Dr. Ivan L. Bennett, Ketua dan Profesor di Departemen Patologi; Dr. Charles C. Carpenter, Ketua Residensi Pelavanan Medis 0sler di Rumah Sakit John Hopkins; dan yang lainnya. Tim kami menemukan bahwa pasien penderita sindrom Schmidt ini tidak hanya mempunyai anti bodi-anti bodi yang menyerang kelenjar adrenal dan thyroid namun juga menyerang sel beta dalam pankreas yang memproduksi insulin. Kami telah menerbitkan jurnaljurnal medis yang menunjukkan hubungan antara antibodi dengan adrenal, thyroid dan pankreas .

Saya percaya salah satu efek noni adalah pada pankreas dan sistem kekebalan tubuh. Penelitian terkini telah menunjukkan bahwa noni mampu mengatur kesehatan sistem kekebalan tubuh baik dengan meningkatkan kinerja sistem yang telah berjalan dengan baik atau dengan merangsang komponen-komponen dalam sistem kekebalan tubuh yang lamban dalam bereaksi. Sebagai tambahan, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, noni dipercaya sanggup memperkuat dan mempertahankan struktur selular. Hal tersebut dapat dicapai dengan noni bertindak sebagai adaptogen yang akan membantu “sel yang sakit” untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Dalam kasus diabetes maka noni akan membantu sel-sel beta dalam pankreas yang tidak berfungsi atau membantu sel-sel tubuh yang tidak berhasil dalam usaha mereka untuk menerima dan menggunakan glukosa dalam darah.

Selain itu mengkonsurnsi noni juga dapat membantu meringankan gejala-gejala diabetes melalui kernampuannya untuk merangsang produksi scopoletin dalam tubuh dan produksi nitric oxide secara tidak langsung. Keduanya merupakan faktor penting dalam meredakan gejala-gejala seperti peredaran darah dan penglihatan yang kurang baik. Karena asupan gula - meskipun itu gula alami - sangat penting untuk diawasi dalam pola makan penderita diabetes, maka perlu dicatat bahwa 120 cc noni juice setara dengan satu macam buah. Suatu aturan umum bagi penderita diabetes adalah dengan mengkonsurnsi noni juice secara bertahap. Namun yang perlu diingat karena noni adalah makanan alami rnaka kecil kemungkinannya noni akan mengubah kadar gula dalam darah dibandingkan dengan jus buah lainnya. Mencatat kadar gula dalam darah setiap hari merupakan cara yang baik untuk memonitor bila terjadi suatu perubahan. Sebagai rekomendasi, catatlah kadar gula darah anda pada pagi hari (gula puasa) dan pada sore hari (sekitar pukul 16.00). Catatan ini akan memperlihatkan bagaimana tubuh anda mengolah gula dan merespon terhadap noni juice atau apapun yang anda makan.

Mohon dicatat bagi penderita diabetes tipe I untuk tidak menggantikan suntikan insulin dengan noni juice. Mereka dapat mengurangi jumlah suntikan insulin. Menggunakan suplemen alami seperti noni juice harus dilakukan di bawah pengawasan dokter.

Berdasarkan penelitian saya, dari 5.945 pengguna noni yang menderita diabetes, 79% di antaranya melaporkan gejala-gejala diabetes yang semakin membaik.

Patent Tahitian Noni Juice untuk Diabetes
Preventative and Treatment Effects of Morinda Citrifolia on Diabetes
US Patent, Nos. 6.855.345 February 2005 and No. 7.186.422 March 2007

(sumber: How Much, How Often, For What Edisi Keempat by dr. Neil Solomon, MD, PhD)


Baca Selengkapnya...